[Cerpen] Selendang Putih Sang Putri


Angin mengalun santun, menerpa wajah dua wanita cantik, Sang Putri dan Sang Permaisuri, yang berdiri di atas balkon menara. Keduanya tangah menikmati pemandang kompleks istana. Mereka baru menyadari bahwa istananya sungguhlah megah. Bangunan-bangunannya tinggi menjulang dengan puncak kuning keemasan, menara-menara tegap yang tegak di setiap sudut, tembok-tembok pagar nan kokoh mengelilingi kompleks memberikan rasa aman. Betapa! Betapa beruntungnya mereka tinggal di istana sedemikian megahnya. Mereka merasa bahwa istananya adalah istana termegah dari yang pernah ada sebelumnya.

Mengingat semua tentang istananya, Sang Permaisuri seketika teringat bahwa tak lama lagi, wanita cantik yang berada di sampingnya, Sang Putri, akan mewarisi tahta istana itu. Sang Putri akan menjadi Ratu di Negeri Langit. Meski Sang Putri bahagia dengan kenyataan itu, namun dia tetap merasa perlu mengingatkan anaknya perihal persyaratan yang mesti dijalaninya.

“Putriku, kau harus tahu Selendang Putih itu tidak lantas begitu saja kau miliki. Ia harus jatuh di tangan orang yang tepat. Orang itu hanyalah yang memiliki tabiat dan tutur kata yang baik. Dia harus disukai oleh seluruh rakyat Negeri Langit.”

Sang Putri tersenyum pada ibunya, “Ibunda, semoga Putri bisa menjadi orang yang berhak menerima selendang itu.”

Ibunya membalas senyuman anak gadisnya itu lalu mendaratkan sebuah ciuman di keningnya.

Sang Permaisuri dalam hatinya yakin bahwa anaknya layak untuk menerima selendang itu. Sebab dia tahu bahwa anaknya itu tak pernah berperilaku buruk. Sikap dan bicaranya sungguh sopan. Sang Permaisuri kerap mendengar rakyatnya yang mengadu perihal kebaikan yang sering dilakukan anaknya itu. Sang Putri sering berkunjung ke rumah-rumah penduduk di Negeri Langit. Dia berbaur dengan rakyat miskin. Bermain dengan anak-anak. Dan, tak lupa memberi sedikit sedekah untuk mereka.

“Oh, Permaisuri. Alangkah beruntungnya kau memiliki penerus seperti Sang Putri,” ucap seorang penduduk Negeri Langit pada Sang Permaisuri. “Sungguh dia layak untuk menjadi Ratu di negeri ini kelak.”

Hari itu tiba. Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni Negeri Langit. Hari di mana penentuan layak tidaknya Sang Putri menerima Selendang Putih yang menjadi tanda pengangkatannya sebagai ratu Negeri Langit. Sang Raja, ayah Sang Putri, memasuki ruangan. Seketika para pejabat Negeri Langit bangkit dari duduknya menghormati kedatangan junjungannya. Tak terkecuali Sang Permaisuri dan Sang Putri. Sang Raja pun dengan gagah duduk di atas singgasananya.

“Kepada seluruh yang hadir di ruangan ini,” ucap Sang Raja tak mau berlama-lama. “ketauhilah bahwa hari adalah hari yang kita nanti-nantikan bersama. Hari di mana masa depan Negeri Langit ditentukan.”

Ruangan senyap. Tak ada satu pun yang berani untuk sekadar berbisik.

“Aku akan segera mengumumkan apakah layak anakku, Sang Putri, untuk menerima Selendang Putih dan menjadi Ratu kelak. Apa kau siap, anakku?”

Sang Putri mengangguk pelan, namun terasa begitu mantab.

Tak berlebihan jika hari itu menjadi hari penting bagi Negeri Langit. Sang Raja harus menentukan masa depan negerinya. Jika anaknya layak menjadi Ratu Negeri Langit, tentulah bukan masalah. Namun justru jika anaknya tidak layak menjadi seorang Ratu, maka itulah yang akan menimbulkan petaka. Selendang Putih pun tak bisa diturunkan. Sebab jika berada di tangan yang salah selendang itu bisa menimbulkan bencana. Sementara Sang Raja tak memiliki keturunan lain selain Sang Putri. Bisa dibayangkan bila hal itu terjadi. Kepada tangan siapa dia mesti meletakkan masa depan negerinya?

“Baiklah,” kata Sang Raja. “Setelah mendengar banyak laporan dari penduduk di Negeri Langit dan setelah melakukan musyawarah dengan para petinggi, maka kunyatakan Sang Putri…”

Semua yang hadir terdiam, menunggu keputusan Sang Raja. Mereka ingin Sang Raja lekas melanjutkan. Mereka semua was-was. Hatinya tidak sabar. Mereka menerka-nerka keputusan seperti apa yang akan Sang Raja ucapkan. Tak sedikit dari mereka yang bibirnya bergerak-gerak melantunkan doa-doa.

“…berhak menerima Selendang Putih dan menjadi calon Ratu di Negeri Langit.”

Seketika ruangan itu menjadi riuh. Seluruh yang hadir di sana berbahagia. Mereka semua bertepuk tangan gembira. Terlebih lagi Sang Putri yang wajahnya terlihat merona, langsung duduk dan bersimpuh di depan orang tuanya, meminta restu keduanya.

“Tapi ingat, anakku,” kata Sang Raja. “Seperti yang kau tahu bahwa Selendang Putih itu tak boleh digunakan sembarangan sebab akibatnya akan sangat fatal.”

“Baik, ayahanda. Putri akan menjaga amanah ayah untuk menggunakan selendang itu dengan sebaik-baiknya.”

Setelah itu Sang Raja pun menyerahkan Selendang Putih itu pada Sang Putri. Di tangan anaknya, selendang itu tampak berkilau indah.

Cerita mengenai kekuatan Selendang Putih itu memang tak dibuat-buat. Selendang itu adalah salah satu dari dua senjata sakti milik Negeri Langit. Senjata sakti lainnya adalah Pedang Pusaka. Kedua senjata itu akan diturunkan-temurunkan kepada penerus Negeri Langit. Jika dia adalah seorang lelaki, maka dia akan menerima Pedang Pusaka. Sedang jika dia wanita, maka dia akan menerima Selendang Putih. Selendang itu punya kekuatan yang luar biasa. Wajarnya benda-benda ajaib lainnya, selendang itu bisa menyembuhkan orang sakit. Hanya dengan menyelimutkannya pada tubuh orang yang sakit atau bagian tubuh yang terluka, maka seketika penyakit yang diderita pun akan sirna. Sebagai senjata, Selendang Putih itu tentulah bisa digunakan untuk menyerang musuh. Dengan mengibaskannya, maka akan muncul semacam ledakan dan membuat musuh langsung terpental. Kekuatan lainnya dari selendang itu yakni bisa digunakan untuk bersembunyi dengan cara tak menampakkan diri. Cukup dengan menggunakan selendang itu sebagai penutup kepala saja. Namun, kekuatan yang paling luar biasa dari Selendang Putih itu ialah bisa digunakan sebagai tangga untuk turun ke Bumi. Akan tetapi, hal tersebut tak boleh dilakukan bila tidak dalam keadaan yang benar-benar terdesak.

Semenjak memiliki Selendang Putih itu, Sang Putri sering membantu orang-orang yang kesusahan. Rakyat di negerinya, dayang-dayang di istananya, semua yang membutuhkan pertolongan sebisa mungkin dia bantu. Dengan adanya selendang itu segala pekerjaannya juga menjadi lebih ringan.

Makin lama hidup Sang Putri pun bergantung pada Selendang Putih. Nyaris segala pekerjaannya dia lakukan dengan menggunakan selendang itu. Sampai akhirnya dia tak mampu lagi mengendalikan kekuatannya.

Dia dikalahkan oleh kekuatan Selendang Putih.

Sang Putri pun tampak mulai jemawah. Dia mulai sombong lantaran dapat melakukan apa saja dengan selendang miliknya. Kini dia tidak lagi mau membantu orang yang meminta pertolongan padanya. Dia selalu menolak setiap kali ada yang meminta bantuannya.

“Kau pikir aku dukun?” bentak Sang Putri. “Aku seorang putri mahkota. Anak dari Raja Negeri Langit. Calon Ratu negeri ini.”

Sang Putri juga mulai tidak ramah dengan dayang-dayang di istananya. Sedikit melakukan salah Sang Putri pun langsung marah.

“Apa kau dayang baru di istana ini? Bodoh sekali! Membawa makanan saja tidak bisa.” marah Sang Putri. Lalu mengibaskan Selendang Putih miliknya ke arah dayangnya. Terlukalah dayang itu.

Kini Sang Putri bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya tanpa ada orang yang berani mengganggunya.

Hal itu akhirnya diketahui oleh Sang Permaisuri. Mendengar kabar tersebut dia sedikit tidak percaya. Bagaimana bisa anaknya yang semula punya perangai yang baik berubah menjadi buruk? Apa yang terjadi dengan Sang Putri, pikir Sang Permaisuri. Sang Permaisuri pun mencoba berbicara dan menasihati putrinya itu.

“Anakku, apa yang terjadi padamu? Mengapa sekarang sikapmu begitu buruknya?” ucap Sang Permaisuri. “Ingat, anakku, jangan sampai kau lupa diri. Jangan hanya lantaran kau memiliki kekuatan yang hebat lantas kau jadi sombong.”

Akan tetapi nasihat dari ibunya tak didengarkan oleh Sang Putri. Dia tetap melakukan hal-hal buruk. Bertindak semena-mena kepada siapa saja bawahannya. Tidak lagi memiliki sopan santu seperti dulunya. Sang Permaisuri pun mulai khawatir. Dia segera melaporkan hal tersebut pada Sang Raja, suaminya.

“Apa yang harus kita lakukan pada anak kita?” tanya Sang Permaisuri.

“Aku tidak tahu, istriku,” jawab Sang Raja. “Sejujurnya memang sudah tidak ada yang bisa kita lakukan.”

“Mengapa begitu?”

“Selendang itu sudah jadi miliknya. Kini kita tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sendiri tidak punya kekuatan untuk melawannya.”

“Tapi saat ini kau masih pewaris Pedang Pusaka, bukan?”

“Maksudmu aku harus melawannya dengan pedang itu?” kata Sang Raja. “Istriku, Pedang Pusaka dan Selendang Putih adalah dua senjata tak terkalahkan di Negeri Langit. Tidak satu pun di antara keduanya yang punya keunggulan. Keduanya sama-sama kuat. Jika Pedang Pusaka dan Selendang Putih harus diadu kekuatannya, maka tidak ada satu pun yang akan menang. Justru yang terjadi adalah kehancuran Negeri Langit.”

Sang Permaisuri diam tak menjawab. Di benaknya langsung terlintas pikiran tentang kehancuran yang dimaksud suaminya.

“Saat ini kita hanya bisa berharap, istriku. Sembari terus-menerus mengingatkan putri kita.”

Namun, yang terjadi bukanlah perubahan baik yang ditunjukkan oleh Sang Putri. Justru kelakuannya malah semakin menjadi-jadi. Semakin hari semakin mencemaskan. Ayah dan ibunya sudah berulang kali mengingatkan namun Sang Putri tetap abai pada nasihat keduanya. Puncaknya adalah ketika Sang Putri tega membunuh seorang prajurit kerajaan.

“Putri!” Sang Raja berang mendengar kabar tersebut. “Perbuatanmu sudah keterlaluan. Teganya kau sampai membunuh seorang prajurit. Apa salahnya?!”

“Ayah, prajurit itu tidak menghormatiku? Beberapa kali aku telah memergokinya selalu memandang tak enak ke arahku.”

“Lantas kau bisa seenaknya membunuh prajurit itu? Kau pikir negeri kita tidak punya hukum? Ingat, di sini aku masih seorang raja. Jika sikapmu begitu, kau sama saja juga tidak menghormatiku.”

“Apa ayah juga akan membunuhku?” sahut Sang Putri.

Sang Raja terkejut mendengar anaknya mengucap demikian. Begitu pula Sang Permaisuri yang ternganga lantaran tidak percaya dengan jawaban anaknya. Sang Raja pun naik pitam.

“Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku!” kata Sang Raja. “Aku ini ayahmu. Aku ini rajamu.”

“Dan aku calon ratu Negeri Langit. Tidak ada yang bisa menggugat hal itu.” Tanpa perasaan bersalah Sang Putri mengucap hal itu dengan senyum sinis di bibirnya.

“Putri!” seru Sang Permaisuri tidak percaya.

“Kau bukan anakku lagi, Putri.” Kata Sang Raja. “Kau bukan anak kami lagi.”

Sang Putri merasa tidak terima dengan perlakukan dari ayahnya. Hatinya seketika dibaluti amarah. Sang Putri gegas ke luar kamar dan menuju halaman istana. Pikirannya kalut. Sang Putri berpikir bahwa perkataan ayahnya itu sama halnya dengan mengusir dirinya. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk menggunakan kekuatan terbesar dari Selendang Putih.

Dia akan turun ke Bumi.

Dibentangkanlah Selendang Putih oleh Sang Putri. Selendang itu dengan sendirinya memanjang dan terus memanjang turun menembus awan. Sang Putri pun bersiap untuk turun menuju Bumi. Meski sebenarnya ragu untuk melakukan hal itu, namun amarah di hatinya membuat Sang Putri tetap mulai menginjak Selendang Putih. Dengan kekuatan yang dimilikinya, maka berjalanlah turun Sang Putri dengan sendirinya.

Tak lama kemudian, sampailah Sang Putri di Bumi. Dia langsung takjub dengan apa yang dilihatnya. Di sekelilingnya segalanya tampak hijau. Dia melihat pepohonan yang tinggi menjulang. Seolah-olah pohon itu akan menembus Negeri Langit. Dia mendengar bunyi dari jangkrik-jangkrik. Kicau burung-burung yang sesekali melintas di atasnya. Dia melihat semua yang tak pernah dilihatnya di Negeri Langit. Dia baru tahu jika Bumi seindah itu. Dia mengira Bumi hanyalah tempat biasa yang tidak memiliki keindahan apa-apa. Kemudian Sang Putri berjalan melintasi hutan. Sampai akhirnya dia melihat genangan air yang begitu luas. Dia langsung berlari kegirangan. Dilihatnya dari tengah genangan itu, ada gulungan-gulungan air yang bergerak ke arahnya. Namun gulungan itu seketika lenyap ketika sampai di tepian. Lalu dia memandang kakinya sudah menyentuh pasir-pasir yang sedikit basah. Ah, rupanya Sang Putri telah sampai di tepi pantai. Tiba-tiba Sang Putri ditakjubkan kembali ketika melihat di kejauhan cahaya yang berwarna menyerupai kulit pinang.

“Astaga! Indah sekali. Apakah itu?” seru Sang Putri.

Tanpa diduga, ternyata ada sepasang mata yang mengawasi Sang Putri dari balik pohon besar. Sepasang mata itu milik seorang lelaki. Lelaki Pencuri. Dia heran melihat tingkah Sang Putri. Dia juga bertanya-tanya siapa sebernarnya Sang Putri. Tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia sering melintas di tempat itu, namun tak pernah sekali pun bertemu dengan Sang Putri. Namun yang paling membuatnya bingung adalah tangga yang digunakan Sang Putri. Tangga berupa selendang yang berpendar cahaya terang. Dia melihat tangga itu menjulang ke atas seolah-olah tak memiliki ujung. Jangan-jangan gadis itu berasal dari Negeri Langit dan tangga itu pasti menuju ke sana, pikir Si Lelaki Pencuri.

Bagi penduduk Bumi, Negeri Langit memang dikenal sebagai negeri yang kaya raya. Banyak menyimpan harta. Emas, berlian dan permata. Negeri Langit adalah negeri yang makmur. Banyak penduduk Bumi yang ingin datang ke sana, namun tak pernah ada satu pun yang bisa. Akan tetapi, kini hal itu bukanlah masalah lagi. Si Lelaki Pencuri sudah tahu bagaimana caranya pergi ke Negeri Langit.

Melihat hari sudah gelap, Sang Putri pun segera membuat sebuah gubuk kecil di tepian pantai sebagai tempat peristirahatannya. Dengan menggunakan selendangnya yang dia kibasakan muncullah sebuah gubuk kecil di hadapannya. Si Lelaki Pencuri yang belum beranjak pergi akhirnya bisa melihat kembali kekuatan dari Selendang Putih.

Agar cerita ini tidak berakhir di sini, Si Lelaki Pencuri mesti mengambil selendang itu. Jika dia tidak mengambilnya, maka cerita ini akan berakhir biasa aja. Dan, tentu saja cerita ini tidak boleh berakhir seperti itu. Cerita ini mesti melegenda.

Pelan-pelan Si Lelaki Pencuri mengendap-endap menuju gubuk tempat Sang Putri beristirahat. Dia mengintip ke dalam gubuk itu dan melihat Sang Putri sedang terlelap. Sementara di sisinya tergeletak selendang sakti itu. Ah, barangkali Sang Putri lupa mengenakan kembali selendang itu. Biasanya selendang itu tak pernah lepas dari dirinya. Atau dia mengira di tempat itu tak akan ada siapa-siapa. Si Lelaki Pencuri pun masuk ke dalam gubuk itu dan tanpa ba-bi-bu dia mengambali Selendang Putih.

Pagi harinya Sang Putri terkejut lantaran mendapati selendang miliknya tidak berada di sampingnya. Dia kebingungan. Dia mencari ke segala tempat di sekitar gubuknya. Tiba-tiba saat Sang Putri mencari sambil menyusuri pinggiran pantai, dia melihat seorang laki-laki sedang memegang selendang berwarna putih. Sang Putri pun jadi khawatir jangan-jangan selendang itu miliknya. Jangan-jangan laki-laki itu telah mencurinya, pikir Sang Putri. Ketika makin dekat, Sang Putri pun yakin selendang itu adalah Selendang Putih miliknya.

“Hei, dari mana kau bisa mendapatkan selendang itu?” tanya Sang Putri. “Kau pasti mencurinya dariku, bukan? Cepat kembalikan padaku!”

Lelaki itu, Si Lelaki Pencuri, hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Sang Putri. “Mengembalikannya padamu?” Lalu dia tertawa seolah-olah Sang Putri telah mengatakan hal bodoh. “Selendang ini bisa membantuku untuk mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan. Apa yang semua orang inginkan: naik ke Negeri Langit.”

Karena kesal dengan jawabannya, Sang Putri pun mencoba untuk melawan. Namun sayang Si Lelaki Pencuri sudah memiliki Selendang Putih di tangannya. Hingga hanya dengan sekali kibasan, terpentallah Sang Putri dan terjatuh sampai tak sadarkan diri. Si Lelaki Pencuri pun tertawa puas. Ada rona bahagia di wajahnya sebab dia akan segera mewujudkan keinginannya.

Si Lelaki Pencuri pun segera membentangkan Selendang Putih ke angkasa. Seketika selendang itu langsung memanjang dengan sendirinya dan menembus awan. Si Lelaki Pencuri langsung menuju ke tempat yang dia idam-idamkan sejak dulu.

Sesampainya di Negeri Langit, sama halnya dengan Sang Putri saat baru tiba di Bumi, dia juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa yang diceritakan oleh orang-orang ternyata benar. Negeri Langit adalah negeri yang sangat megah. Istana-istana yang ada di sana begitu tinggi menjulang. Puncak-puncak istana tersebut tampak berkilau kuning keemasan. Si Lelaki Pencuri pun berpikir bahwa pasti ada tempat di mana Negeri Langit menyimpan emas-emas dan harta lainnya. Kedatangan Si Lelaki Pencuri pun diam-diam diketahui oleh rakyat Negeri Langit dan kabar itu akhirnya sampai di telinga Sang Raja. Bagi mereka kedatangan penduduk Bumi ke tempatnya adalah pertanda kehancuran. Maka seketika mendengar kabar itu hanya satu yang ada di pikiran Sang Raja: kehancuran sudah tak bisa dielakkan.

Dengan membawa Pedang Pusaka, Sang Raja menantang Si Lelaki Pencuri. Seluruh penghuni Negeri Langit pun was-was. Sebab itu adalah kali pertama dua senjata sakti milik Negeri Langit bertemu. Mereka tak tahu kehancuran seperti apa yang bakal timbul. Wajah mereka semua seketika dibalut kekhawatiran.

“Jika kau ingin menguasai tempat kami, lawanlah diriku terlebih dahulu. Jika kau bisa mengalahkanku, maka kau bisa mengambil seluruh kekayaan milik kerajaan kami.” Kata Sang Raja menantang Si Lelaki Pencuri.

“Baiklah kalau begitu permintaanmu. Jangan salahkan aku jika nanti kau terbunuh.”

Begitu selesai dengan ucapannya itu, Si Lelaki Pencuri langsung menyerang Sang Raja. Namun dengan sigap Sang Raja berhasil menangkis serangan itu. Mereka berdua pun bertarung. Keduanya sama-sama kuat sebab di tangan masing-masing ada senjata-senjata yang sama kuatnya. Tak bisa dikalahkan. Tak bisa mengalahkan. Sampai akhirnya, lantaran tak ada satu pun yang bisa kalah, keduanya mengeluarkan seluruh kekuatan dari senjata yang ada di tangannya.

Cahaya berkilauan muncul dari kedua senjata. Ketika keduanya bertemu, terdengarlah ledakan yang begitu dahsyat. Menggetarkan seluruh yang ada di sekitarnya. Istana, rumah-rumah bahkan orang-orangnya pun terkena ledakan itu. Begitu juga dengan kedua senjata pusaka. Sama-sama meledak. Si Lelaki Pencuri pun terhempas kembali ke Bumi. Selendang Putih yang terbakar itu juga turut terhempas. Perlahan-lahan api melalapnya hingga nyaris tak ada lagi yang tersisa. Abu-abunya pun jatuh berguguran di atas pasir-pasir pantai di mana Sang Putri masih tinggal. Sulit dipercaya ketika pasir-pasir di tepian pantai itu yang semula hitam, tiba-tiba berubah menjadi pasir-pasir putih yang bersih. Sang Putri yang sudah tersadar kembali pun tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Kini pasir-pasir yang dipijaknya telah berubah. Bahkan ketika diterpa oleh cahaya matahari, pasir-pasir putih itu tampak berkilau bagai butiran intan.

Akan tetapi, Sang Putri menyadari bahwa kini Selendang Putih miliknya telah sirna. Dia juga menyadari bahwa akibat hal itu dirinya tak akan pernah bisa kembali ke Negeri Langit. Kembali pada orang tuanya.

Si Lelaki Pencuri tak pernah diketahui lagi bagaimana nasibnya. Mungkin saja dia terhempas ke lautan lalu dimakan oleh ikan-ikan. Atau mungkin juga tubuhnya terbakar karena ledakan. Juga dengan kondisi Negeri Langit. Tidak ada yang tahu apakah seluruh penduduknya mati, atau justru bergotong royong membangun negerinya kembali. Begitu pula dengan Sang Putri, tidak pernah ada cerita darinya lagi. Semua ceritanya menjadi misteri. Namun satu hal, di dekat pantai dengan pasir-pasir yang putih itu, tiba-tiba saja muncul sebuah gunung yang membentuk wajah. Wajah yang tengah menengadah. Wajah yang bila dilihat-lihat mirip wajah seorang wanita.

Ah, mungkinkah itu wajah dari Sang Putri yang sudah lama merindukan tempat asalnya? Entahlah. Tetapi tempat itu kini dikenal dengan Pantai Pasir Putih dengan berlatar Gunung Putri.
***
*gambar dipinjam dari bamssatria22.wordpress.com
[Cerpen] Selendang Putih Sang Putri [Cerpen] Selendang Putih Sang Putri Reviewed by TIDAKTAMPAN on November 05, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.